Pernah ga kamu merasa bahwa hari-hari yang telah kau lewati menjadi terasa rumit, dan serasa sedang tercipta neraka yang bergolak panas dalam hati dan kepalamu, tengkukmu terasa menjadi tumpuan puluhan gajah dan rambutmu meranggas? Hahaha, tidak berlebihan kalau sampai ada yang mengatakan YA.
Lalu diantara semuanya, kamu tidak dapat mengeluhkannya pada siapapun karena nyatanya itu hanyalah kesalahan yang terjadi karena pilihan yang telah kau jatuhkan. Tidak bisa mengatakan tidak pada apapun yang telah terjadi dan mungkin akan terjadi. Bisa saja kau berontak namun mungkin akan membuat situasi menjadi sedikit lebih rumit. Kau bahkan tidak tahu apa bedanya menjadi rumit atau sedikit lebih rumit. Kau bahkan tidak bisa membedakan apa itu mudah dan rumit. Lucu yah.
Lalu kamu mengambil sebuah 5 menit dari 24 jam yang dianugerahkan padamu untuk memberi warna pada dunia dan sebuah lima menit tadi terasa begitu menguap dengan amat mudah.
Kamu mengambil 5 menit milikmu tadi untuk tersenyum di sebuah pertengahan hari yang belum akan berakhir. Kamu tahu harimu belum berakhir karena banyak gajah yang masih menggelayuti tengkukmu. Lalu kamu tetap mengambil lima menit tadi untuk berkata terima kasih pada dirimu sendiri yang sudah berusaha untuk tetap berdiri tegak ditengah semua gempa yang sedang terjadi. Kamu berkata terima kasih pada dirimu sendiri yang terus bertahan tanpa perlu banyak tanya mengapa harus bertahan di atas dunia. Kamu berterima kasih pada otakmu yang membantumu untuk tetap menyinggahi pekerjaan meski semua terasa tak layak untuk diperjuangkan. Kamu berterimakasih pada dirimu sendiri untuk hati yang tetap bertahan pada kekukuhan untuk tidak menyemburkan emosi negatif saat situasimu tidak membaik dan bahkan memburuk, dengan rekan kerja yang cukup aneh untuk dianggap sebagai teman, untuk setiap atasan yang tidak menyadari pentingnya seorang staf yang ditinggalkan, dan untuk suhu panas tempatmu bekerja yang bisa membakar amarahmu. Kamu mengambil waktu lima menit disebuah pertengahan hari yang belum akan selesai, untuk melakukan sesuatu yang amat sangat langka dilakukan semua manusia, berterima kasih pada Tuhan untuk semua hal yang sedang terjadi dan akan terjadi. Kamu tersenyum, dan memandangNya tepat diahadapan kuasaNya. Kamu memandangkan wajahmu yang kelam dihadapanNya sembari tersenyum dan berkata "To Be With You Is All That I Need".
Kamis, 13 Desember 2012
Selasa, 11 Desember 2012
Saat Makan di Food Court
Udah nyaris 5 tahun melanglang di jalanan. Berada dibawah komando banyak macam manusia,atau memberi komando pada bermacam manusia juga. Sebagai engineer,planner dan koordinator. Menjalankan pekerjaan ini,diakui bukan hal mudah. Bertahan sejauh ini di industri yang tidak mengasihi mereka yang setia,jelas bukan hal yang mudah dijalani. Mengambil salah satu bidang di dunia telekomunikasi,bertahan di bidang kabel optis,sampai masuk kelubang tempat ia ditanam,adalah apa yang sedang aku lakukan. Beberapa kali,mungkin tiap hari,dengungan untuk berhenti dan memilih karir yang lebih feminis terus terdengar. Bukan tidak tertarik,tapi rasanya pekerjaan ini akan membawaku kesebuah tempat,entah apa. Hari ini di Surabaya,aku makan malam sendirian,seperti biasa.Aku makan malam disebuah food court di mall tengah kota. Aku membawa piring makananku dan mencari bangku kosong. Sulit. Bukan karena penuh,dan aku tak bisa duduk. Justru karena kosong dan aku,di titik itu sadar,bahwa tidak pernah ada bangku makan di foodcourt yang disediakan bagi satu orang. Tiap meja disini minimal digunakan untuk 2 orang. Saat itulah aku sadar,selama 5 tahun aku melakukan ritual makan malam sendirian di foodcourt yang bertebaran,dan saat itulah sesungguhnya aku tak pernah punya hubungan sosial,dengan siapapun secara nyata.
Kemudian aku duduk,merasakan kekosongan yang sama dengan yang dirasakan perutku. Berkeriut minta diisi.
Aku duduk dan memakan makananku. Menjadi sosok yang tak punya benang nyata dengan semua manusia yang terhampar disini.
Demi apa?
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Kemudian aku duduk,merasakan kekosongan yang sama dengan yang dirasakan perutku. Berkeriut minta diisi.
Aku duduk dan memakan makananku. Menjadi sosok yang tak punya benang nyata dengan semua manusia yang terhampar disini.
Demi apa?
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Langganan:
Postingan (Atom)