Senin, 01 Juli 2013

Business Development : Ladang Pahala

Yuhuuu, pekerjaanku di perusahaan ke-5 saat usiaku 27 tahun ini adalah sebagai staff strategi korporasi. Hahaha,jebakan batman. Namanya keren kan. Tugasku adalah berkhayal. Dan secara literal,kata itu memang disebutkan oleh pimpinan divisiku tepat didepanku. "Tugas kamu ilma,memang banyak berkhayal" begitu katanya. Siapa sih yang tidak suka duduk diam berkhayal,melamun,senyum,lalu merengut. Keren ya,tapi karena cuma berkhayal itulah,gajinya juga tidak seberapa.

Sudah sejak awal 2012 aku mencoba mengirim aplikasi sebagai staf business development di perusahaan ini. Sejak ada lowongan di situs pencari kerja dan aku sangat rajin mengirimkan aplikasi. Baru pada awal Januari mereka memanggilku dan dimulailah segala proses seleksi yang menguras waktu dan uang.

Puas karena diterima? Sudah tentu. Bagaimana situasinya? Hahaha,entahlah. Sejauh ini aku menyukai deskripsi kerjaku. Aku diharuskan mempelajari bermacam teknologi yang sedang tren,sedang dikembangkan dan bahkan aku bisa melamunkan bermacam teknologi yang belum ada,untuk kemudian dituangkan menjadi sebuah aplikasi. Keren kan,hahaha,tidak mudah. Memang tidak ada yang mudah di dunia ini. Tapi aku akan terus belajar.

Saat ini aku sedang mencoba aplikasi fttx untuk di kawasan Industri. Satu perusahaan ini belum pernah ada yang menyambangi teknologi optik itu,hanya aku. Jadilah segalanya ada di aku. Menjadi semacam konsultan untuk perencanaan. Melelahkan,sekaligus menakutkan. Semua orang bertanya. Mulai dari direksi sampai tim marketing. Shit happens.

Hari ini rencananya aku dan bosku,akan mendatangi salah satu vendor IPTV. Sudah terbayang di tahun 2020 nanti, isi rumah adalah dinding gelas yang bisa terkoneksi dengan internet dan menjadi IPTV. Aku sendiri sedang mengembangkan beberapa aplikasi untuk maksimalisasi IPTV. Selain bisa memilih channel based on request, IPTV seharusnya bisa membantu pengguna untuk menentukan keputusan. Misalnya saja,mereka melihat di kaca mereka,ramalan cuaca dan pantauan kemacetan. Hal itu akan membantu mereka untuk mempersiapkan hari itu.

Bukankah ada ayat Al Quran yang menyatakan "Mudahkanlah orang lain,berilah kabar baik" ? Ladang pahala dong hehehe


Sabar

Orang yang terbiasa berinteraksi dengan fasilitas publik dan pelayanan publik,pasti pernah dengar kata satu itu "Sabar". Diucap secara literal,atau dengan perumpamaan,kata tadi memang harus diserap oleh sebagian besar orang yang bersedia memakai jasa pelayanan publik seperti di Jakarta.

Misalnya saat menumpang Busway. Busway punya banyak sekali armada. Meski kadang ia datang tidak tepat waktu,hal itu bukan murni kesalahan mereka,karena memang banyak pemakai jalan raya terutama mobil yang kurang cerdas. Mereka yang bermobil masih saja memakai lajur busway dan menjadi biang macet. Apalagi ketika mobil hanya ditumpangi satu orang dan berukuran besar. Nah,kembali ke busway. Busway biasanya berdesakan. Sangat identik dengan lelah,bau keringat meski AC busway disetel maksimal,lalu berhimpitan. Kenapa bisa begitu? Karena orang tidak sabar. Beberapa hari lalu aku coba memaknai sabar ini saat menunggu busway datang. Aku menyambangi halte pada pukul setengah tujuh pagi di hari kerja. Di jalan raya,macet seperti biasa. Halte masih sepi,hanya terlihat beberapa orang penumpang. Lalu armada busway pertama datang. Sangat penuh dan calon penumpang disebelahku memaksa masuk. Jadilah ia berhimpitan. Aku diam dan tidak terjebak dengan keadaan. Busway kedua datang, masih saja penuh. Ia kuabaikan. Busway ketiga sama penuhnya,dan aku masih mengabaikan. Jam menunjukkan pukul 7. Lalu busway ke-empat datang,masih sama penuhnya,aku masih tidak tertarik menumpang.Dan ternyata,pas dibelakang busway ke-empat tadi,ada sebuah busway yang hanya berisi 10 orang dengan banyak tempat duduk kosong. Buru-buru aku menaikinya. Dan aku duduk santai didalam busway yang membelah kemacetan panjang,tidak berhimpitan,dingin,murah dan bisa melanjutkan tidur. Aku mempraktekkan strategi yang mungkin tidak banyak dipikirkan orang Jakarta saat ini. Voila..sabar menunggu.